Hampir sebulan terakhir ini, Negeri Ulu di hebohkan dengan suara ambulans, yang acap kali terngiang di telingga para penduduk. Suaranya sungguh memekakkan lubang telinga. Berdetak jantung, merinding bulu kuduk penduduk.
Tak terdengan lagi suara pidato Gubernur Jenderal dan pejabat bawahannya, selain suara ‘Niiii nuuu…..Niiii nuuu ….Niiii nuuu”, suara serine yang dapat memecah urat saraf.
Awalnya penduduk mengira itu suara teropet Sanka Kala. Brisik, bikin kaget dan cemas. Saat mereka merenung akan bunyi suara “niiii…..nuuu…..niiii……..nuu…niii…nuuu” itu, baru tersentak kalau itu suara ambulans.
Bergegas bersama tokoh masyarakat, penduduk meluncur ke kantor Parpol, kerumah sakit yang ada di Negeri Ulu ini. Tindakan logis, relistis. Sebab hanya Parpol, balai kesehatan atau rumah sakit yang biasanya punya kendaraan Ambulans. Hasilnya nihil. Semua ambulans yang ada terparkir di garasinya masing-masing. Termasuk rumah sakit pemerintah terbesar di Negeri Ulu, Rumah Sakit Dang Kito.
Penduduk bingung. Ambulan apalah yang acap kali mundar- mandir. Ada suara, tapi tanpa wujud kendaraan ambulansnya. Sempat penduduk menemukan kendaraan yang dikiranya mengeluarkan suara serine di negeri ini.
Untuk penduduk belum melakukan anarkisme. Ternyata yang disangkakan itu salah. Itu mobil dinas pemerintah, memang mirip dengan kendaran ambulans.
Cik Yunus, penduduk yang tinggal di pinggiran kota, tersenyum melihat kegelisahan penduduk. Sebenarnya Cik Tau, tapi Cik Slow aja.
“ Gubernur Jenderal dan aparat penegak hukum aja tak mau bergerak, mencari sumber asal suara ambulans itu, kenapa kita mesti repot! Ini Negeri Ulu, bukan Negeri Seberang. Negeri Ulu ini penduduknya pecah bulu”, kato Cik Yunus waktu penduduk sedang kumpul .
“Hitam….hitam…..hitam……”, seorang tetua penduduk kesurupan, seolah-olah memberikan petunjuk
